Melawan Gravitasi Kesuksesan

Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar cerita yang menarik dari sahabat saya, ceritanya adalah sebagai berikut:

Ada seorang suami dan istri melakukan perjalanan dari kota A ke kota B. Mereka membawa sebuah sepeda yang tidak memiliki tempat boncengan.

Pada awal perjalanannya, istri menaiki sepeda dan suami berjalan kaki. Melihat hal tersebut, orang-orang di sekitarnya mencemooh wanita itu sebagai wanita yang tidak menghormati suaminya.

Mendengarkan gunjingan itu, si wanita turun dari sepeda dan meminta suaminya untuk menaiki sepeda. Di tempat yang lain orang membuat gunjingan yang tidak jauh berbeda, mereka menganggap bahwa sang suami adalah orang yang tidak tahu malu. Gunjingan tersebut menyatakan harusnya si istri yang naik sepeda bukan suaminya.

Karena saking jengkelnya kedua pasangan tersebut mendengarkan omelan orang di sekitarnya, maka mereka berdua sepakat membuang sepeda tersebut ke tempat sampah dan akhirnya mereka berjalan kaki sampai dengan kota tujuan. Meskipun sudah melakukan upaya terakhir, orang—orang yang tahu bahwa mereka membuang sepedanya juga mengatakan hal yang tidak jauh berbeda, ‘Bodoh sekali pasangan itu, sudah memiliki sepeda, kenapa tidak digunakan bergantian saja untuk menghemat energi.

Apa makna dari cerita itu?

Menurut saya cerita itu menggambarkan kehidupan kita sehari-hari. Dalam beberapa hal kita sering mendengarkan input negatif, kritik yang menghancurkan semangat, dan sejenisnya. Anehnya, meskipun kita sudah tahu hal seperti itu akan selalu terjadi, kadang-kadang kita terpengaruh dan mengikuti arus negatif tersebut. Bahkan beberapa dari orang yang saya kenal memikirkan input negatif itu hingga berhari-hari sampai mereka stress sendiri. Itulah yang dinamakan sebagai gravitasi kesuksesan.

Kesuksesan ada di atas kita, dan gravitasi menarik kita dari bawah. Kita bisa ‘terbang’ ke atas jika kekuatan ‘mesin pendorong kesuksesan’ kita lebih besar daripada daya tarik gravitasinya.

Untuk itulah kita membutuhkan penangkal arus negatif, jika tidak, kita akan selalu menjadi seperti sepasang suami istri pada cerita di atas.

Benar-benar aneh tapi nyata, namun memang itulah yang terjadi, bahwa kita memang lebih memikirkan apa yang dikatakan orang lain daripada memikirkan apa yang kita inginkan atau yang kita impikan. Apakah Anda juga merasakannya? Mungkin tidak semuanya, namun saya yakin beberapa dari Anda pernah mengalaminya.

Apakah ketakutan seperti itu wajar? Menurut Napoleon Hill (seorang penulis buku motivasi yang legendaris), takut dikritik adalah salah satu dari 6 jenis ketakutan yang menghantui hidup manusia. Dia juga menyatakan bahwa alam memberikan kita kemampuan untuk mengendalikan apa yang disebut sebagai PIKIRAN. Segala sesuatu yang manusia ciptakan berawal dengan sebuah impuls pikiran. Kepuasan atas hasil yang kita capai, kebahagiaan yang kita rasakan dan ketenangan pikiran kita adalah hasil pengendalian imajinasi yang kita ciptakan dalam benak kita. Hal itu akan mempermudah kita memahami prinsip bahwa KETAKUTAN juga dapat dikuasai dan dikendalikan. Jadi jika Anda merasakannya, jangan kuatir, karena ketakutan itu hanyalah imajinasi negatif yang Anda ciptakan sendiri.

Penulis hebat lainnya, bernama Dale Carnegie, menyatakan sesuatu yang berhubungan dengan kritikan. Kritikan membuat banyak orang merasa tidak nyaman bahkan mungkin akan menanamkan ketakutan dan kejengkelan dalam diri orang yang dikritik. Hal ini perlu disadari, karena pada dasarnya setiap orang memiliki self-defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri dari setiap serangan pihak luar, termasuk kritikan.

Cara yang terbaik untuk menang dalam sebuah perdebatan (perdebatan berbeda dengan diskusi) adalah dengan tidak memulainya, karena ketika Anda merasa menang dalam perdebatan sebenarnya Anda juga mengalami ‘kekalahan jangka panjang’. Jadi ketika Anda mendapatkan gunjingan atau kritikan dengarkanlah dengan sungguh-sungguh tanpa perlu membalas kritikan tersebut. Dengarkan dengan mata hati agar Anda tetap mengarah kepada visi hidup Anda, karena mungkin mereka yang benar. Mudahkah itu? Tentu saja tidak semudah itu tulisan ini, dan saya sendiri juga belajar untuk bisa melakukannya dengan lebih baik. Namun saya yakin, dengan berlatih melakukannya (learning by doing) saya pasti bisa. Begitu juga dengan Anda.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa cerita di atas menunjukkan bahwa hal-hal psikologislah yang membuat hidup manusia menjadi kompleks. Manusia bukan mesin yang bisa bersikap 100% obyektif, manusia memiliki subyektivitas. Sehingga ketika Anda memiliki suatu impian, memiliki suatu visi, atau target dalam kehidupan Anda dan Anda berjalanlah menuju ke arah itu, banyak sekali tantangan psikologis yang sangat mengganggu keyakinan kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Bersikap rendah hati dan mengurangi ego kita akan sangat banyak membantu ketika kita menerima gunjingan orang lain. Seperti cerita sebelumnya, seandainya suami istri itu mau rendah hati dan menyisihkan sedikit ego mereka, mereka bisa tetap membawa sepeda ke kota tujuannya.

Sebagai orang tua, saya merasa perlu untuk selalu menyalakan ‘mesin kesuksesan’ dalam diri saya dan diri mereka, sehingga kami sekeluarga bisa melawan gravitasi kesuksesan yang menghambat kami. Film Pursuit of Happiness yang dibintangi oleh Will Smith benar-benar menginspirasi saya tentang bagaimana kita harus melawan gravitasi kesuksesan yang selalu menghambat kita. Dengan segala keterbatasannya, ia berjuang untuk memperbaiki nasibnya demi masa depan anaknya.

Bagaimana dengan Anda? Apa ‘gravitasi kesuksesan’ Anda? Perjuangkanlah dengan segala daya upaya untuk menangkalnya, demi orang-orang yang Anda sayangi dan siapa saja yang membutuhkan kesuksesan Anda.

Nah, sekarang tinggal pilihan bagi kita, apakah kita akan terus menyalakan ‘mesin kesuksesan’ untuk menangkal gravitasinya dan mungkin menginspirasi orang yang ada di sekitar kita atau kita akan senantiasa menjadi ‘pencuri semangat’ orang lain yang mungkin akan menghancurkan impian orang lain.

Semoga sukses melawan gravitasi kesuksesan Anda.

(dipublikasikan di Tabloid Keluarga – Dedhy Sulistiawan – November 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s