HIDUP INI ADALAH BELAJAR

Pada umumnya masyarakat mengidentikkan kata ‘belajar’ dengan sekolah. Hal itu wajar, mengingat sejak kecil kita bersekolah mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Kemudian beberapa dari kita melanjutkan sekolah di jenjang D3, S-1, S-2 bahkan S-3, dan mungkin beberapa orang akan bersekolah sampai jenjang S-4 jika program tersebut ditawarkan. Sehubungan dengan sekolah, beberapa tahun terakhir ini bahkan menjamur banyak playgroup yang menawarkan pendidikan pra-TK, sehingga anak ‘dipaksa’ bersekolah sejak usia yang yang sangat dini. Fenomena ini menunjukkan bahwa hasrat belajar (atau bisa juga hasrat orang tua pelajar) yang sangatlah besar.

Namun benarkah belajar hanya di sekolah saja? Anda pasti sudah tahu bahwa jawabannya adalah TIDAK. Menurut saya, sekolah sangatlah penting, namun banyak orang merasa mereka akan berhenti belajar setelah lulus sekolah/kuliah. Bukankah setiap saat, sejak lahir sampai meninggal, manusia akan terus belajar? Bukankah belajar itu bisa juga di luar kelas/sekolah?

Coba kita lihat ketika bayi baru lahir, dia belajar mengenal kehidupan baru di luar rahim sang ibu. Kemudian dia belajar melakukan aktivitas fisik, termasuk duduk, bicara, berjalan, berlari dan seterusnya. Anda bisa lihat ketika dia ‘harus’ belajar untuk berjalan. Dengan penuh semangat dan keyakinan si bayi belajar dari jatuh bangunnya dia dan akhirnya berhasil. Dan, semua dari kita dulunya adalah seorang bayi.

Pada dasarnya, belajar tidak mengenal tempat dan waktu. Belajar tidak harus dari buku, bisa dari internet atau bisa juga dari pengalaman kita, teman kita, orang tua kita, dan siapapun juga. Saya selalu percaya bahwa jauh lebih banyak yang kita tidak tahu dari pada yang kita tahu. Karena itu, kita akan selalu mendapatkan tambahan informasi setiap harinya, jika kita mau membuka diri untuk belajar.

Hambatan terbesar dari belajar adalah bukan ketidakpintaran kita, melainkan ego dan kemalasan. Kedua hal tersebut memiliki peran yang sangat dominan dalam proses belajar kita sebagai manusia. Pernyataan ini membuat saya ingat atas apa yang pernah disampaikan salah satu guru saya, knowledge is free, but wisdom is expensive. Jaman sekarang, mudah bagi kita mempelajari semua jenis pengetahuan, namun untuk mendapatkan sikap yang bijak membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Sikap yang bijak bisa ditunjukkan dengan kerendahan hati, menghargai pendapat orang lain, jujur, tidak egois, dan sikap positif lainnya. Hal itulah yang membuat kita lebih mudah mempelajari sesuatu yang baru dan hal itu jugalah yang membedakan antara manusia dan mesin.

Bercerita tentang belajar, saya yakin Anda kenal orang bernama Newton. Ia menemukan prinsip gravitasi ketika dia kejatuhan apel. Rasa ingin tahunya membuat dia ‘harus’ mempelajari kenapa apel dari pohon bisa jatuh. Ketekunannyalah yang membuat namanya abadi hingga saat ini. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana perkembangan ilmu fisika tanpa ‘teori apel jatuh’.

Di waktu yang lain, Copernicus menyangkal pendapat Ptelomeus yang menyatakan bahwa pusat tata surya adalah bumi dan benda angkasa mengelilinginya. Hasilnya, banyak ilmuwan pada waktu itu mencemoohkan temuan baru tersebut. Copernicus berpendapat bahwa matahari adalah pusat tata surya dan bumi mengelilinginya. Konsep tersebut dicela dan dianggap cerita ngawur, karena jelas menyalahkan pendahulunya dan ilmuwan terkemuka pada waktu itu.

Bagaimana dengan kita? Setiap hari kita pasti mempelajari sesuatu yang baru, entah dari orang yang lebih muda atau jabatannya lebih rendah dari kita atau mungkin adik atau anak kita. Maukah kita merendahkan hati untuk mendengarkan? Banyak sekali pengetahuan baru yang akan sangat berguna bagi kita, namun karena jebakan rutinitas dan perangkap ego membuat kita memiliki ‘pasukan berani mati’ yang menghalangi masuknya informasi dan pengetahuan baru ke dalam otak kita.

Untuk mengakhiri, sang bijak berpesan kepada kita semua bahwa belajar itu bukan hanya untuk menambah pengetahuan kita, namun juga memperbaiki sikap dan kebijaksanaan kita.

Dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia – Dedhy Sulistiawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s