Technical Rebound atau Falling Knife?

“Kekuatan beli inilah yang melawan “gravitasi” di bursa saham,
sehingga saham bisa “beterbangan” kembali.”

Suatu hari seorang anak bernama Fidel belajar tentang hukum gravitasi. Apa yang ia dapatkan? Jika suatu benda dilepaskan dari tangan maka benda tersebut akan jatuh ke tanah. Karena hukum alam menyatakan benda akan tertarik oleh daya gravitasi.
Di hari yang lain, ia melihat teman-temannya bermain bola di lapangan. Apa yang ia lihat? Ternyata jika suatu bola dilempar ke atas, maka bola itu akan memantul ke bawah. Begitu pula sebaliknya. Semakin kuat kita memantulkan bola ke bawah (atau ke atas) maka semakin kuat pula bola itu akan berbalik arah. Kekuatan pembalikannya itu tergantung kekuatan lemparan bola. Jadi, selama benda tidak mendapatkan kekuatan untuk naik, maka benda akan jatuh.
Apa hubungannya dengan bursa saham?
Technical rebound terjadi ketika harga saham kembali naik setelah turun. Semakin kencang penurunannya (harga turun drastis) semakin besar potensinya untuk kembali naik. Kenapa bisa terjadi? Karena penurunan harga saham hanyalah akibat dari kepanikan pasar (panic selling). Dengan kata lain, tidak ada kejadian yang akan mempengaruhi aspek fundamental yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Jadi rekomendasinya, beli saat harga turun drastis karena panic selling. Kekuatan beli inilah yang melawan “gravitasi” di bursa saham, sehingga saham bisa “beterbangan” kembali.
Namun apa yang terjadi jika harga saham terus merosot. Istilah inilah yang bisa dinamakan sebagai falling knife. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika sebuah pisau jatuh dan Anda berusaha untuk menangkapnya. Tangan Anda akan terluka atau berdarah karena terkena goresan pisau, dan pisau tetap jatuh karena Anda tidak berhasil menangkapnya. Begitu pulalah yang terjadi di bursa saham. Harga saham yang jatuh karena faktor fundamental perusahaan akan memiliki trend yang bearish. Ibarat rumah atau lingkungan perumahan yang sering terkena genangan air karena banjir atau air laut pasang, nilai fundamentalnya akan turun. Jika kita ingin membeli dengan harga beli yang murah, nilai jualnya tidak akan lebih tinggi (cenderung turun).
Jadi apa kesimpulannya jika harga saham turun?
Bagi Anda yang memiliki horizon investasi jangka panjang, analisis fundamental akan bisa membantu Anda untuk menentukan apakah ini hanyalah panic selling atau bukan. Cobalah menggunakan analisis PER atau mendiskontokan aliran kas perusahaan di masa mendatang. Indikator perubahan tingkat bunga sangat menentukan metode tersebut. Jadi jika bunga masih rendah, biasanya harga saham masih memiliki nilai wajar yang tinggi. Menurut Benjamin Graham, justru saat resesi (penurunan harga saham yang signifikan) adalah saat yang paling baik membeli saham perusahaan bagus dengan harga murah. Bagaimana cara mengetahui apakah harga saham murah? Lakukan analisis fundamental dan investasikan dana Anda yang benar-benar menganggur. Coba Anda ingat kembali harga saham ketika krisis monitor (tahun 1997an), misalnya harga saham ASII yang sempat menyentuh nilai Rp 250/lembar (saat ini harganya hampir mencapai Rp 30.000/saham). Coba lihat lagi saham INCO, atau TLKM dan seterusnya.
Bagi Anda yang melakukan perdagangan saham (investasi jangka pendek), analisis teknikal akan bisa membantu Anda untuk menentukan apakah akan terjadi technical rebound atau falling knife. Apakah terjadi oversold atau sinyal beli transaksi dari grafik yang ada. Yang menarik dari analisis ini adalah usahanya untuk mempelajari perilaku pasar yang ditunjukkan dari pergerakan harga saham. Dengan asumsi bahwa history repeat itself (sejarah selalu berulang), maka kejadian yang sama dianalogikan akan terjadi di masa kini. Masihkah Anda ingat kasus bom Bali, BEJ, atau WTC? Beberapa referensi investasi juga mendukung bahwa saat terjadi tragedy akan terjadi technical rebound. Harga turun drastis untuk beberapa waktu, namun akan naik lebih tinggi dari pada sebelum tragedi.
Jadi, lakukanlah kedua analisis ini dengan baik. Perusahaan yang baik belum tentu harga sahamnya akan menguntungkan, karena saat (timing) Anda membeli juga akan membuat perbedaan terhadap return yang akan dihasilkan.
Dalam artikel ini penulis tidak berusaha membuat saran yang pragmatis apakah besok harga saham akan naik atau turun. Penulis hanya bisa menyampaikan, lihat grafik harga saham Anda, apakah grafik harga saham tersebut sudah menembus grafik moving averagenya? Jika sudah silakan beli karena akan terjadi technical rebound, jika belum kemungkinan akan terjadi fenomena falling knife.
Akhir kata, penulis adalah peneliti dan penulis buku analisis teknikal, jadi rekomendasi yang diberikan akan mengarah ke strategi analisis teknikal. Namun sayangnya hal itu tidak bisa diberikan oleh penulis, karena penulis tidak tahu kapan tulisan ini akan dipublikasikan.
Jadi mari kita buktikan apakah terjadi falling knife atau technical rebound. Selamat mengambil keputusan.
Investasikan waktu Anda sebelum menginvestasikan uang Anda.

Dedhy Sulistiawani
dipublikasikan di harian KONTAN

One thought on “Technical Rebound atau Falling Knife?

  1. Luar biasa ulasan anda memberikan masukkan yang berarti buat kami yang new bie dalam dunia saham

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s